Loading... Please wait

Ular Dibawah Tempat Tidur

Seekor ular yang melingkar tepat di bawah tempat tidurku, yang seharusnya nyaman mendekam di 'dunia lain' itu, tiba-tiba muncul menampakkan diri dalam alam nyata. Bukan sekedar sesosok hantu kelas kecoak yang cuma bisa menakut-nakuti anak kecil dalam kesunyian malam kala sendiri.
Tapi dia mampu mengintervensi pikiran, perasaan, peran bahkan hidupku. Sampai pada titik kulminasi kesangupan untuk memilih:
Harus berbagi hidup dengannya, berkompromi dalam segala hal, sepertinya dia menjadi bayanganku dan aku menjadi bayangannya;
Atau harus terganti olehnya, tersingkir dari kehidupanku sendiri sejauh-jauhnya untuk selamanya.

Belum lama menghuni rumah kontrakan kami di Kelurahan Cibuluh, Bogor Utara, seorang kawan lama Mas Ari berkunjung. Ia terkaget-kaget saat memasuki rumah. Bukan hanya seperti terkaget-kagetnya teman-teman kantor Mas Ari saat mengetahui rumah kontrakan kami, yang menurut meraka tidak pantas dan terkesan kumuh untuk seorang staf perusahaan swasta multinasional di Jakarta.
[Sebuah rumah kontrakan tipe RSSsss… dengan halaman yang cukup luas dipenuhi berbagai tanaman, beratap asbes disekat menjadi delapan pintu yang dihuni delapan keluarga. Kalau di Jakarta dikenal dengan sebutan rumah petak. Masing-masing berukuran 3 x 7 m. Terdiri dari satu ruangan luas, yang disekat triplek untuk memisahkan ruang tamu dan kamar tidur yang merangkap sebagai ruang serbaguna, kamar mandi dan celah sempit untuk dapur. Itu saja masih lebih baik daripada kamar kost di Jakarta yang berukuran 3 x 3 m dan menjadi ruang segala fungsi dengan harga sewa 3 x lipat.]
Tetapi juga karena ia melihat sesuatu yang lain.
Menurut Amir, kontrakan kami ini menjadi tempat mobilisasi beberapa makhluk lain. Sebagian bertempat tinggal di pohon-pohon raksasa yang tumbuh di tanah kosong samping rumah. Sebagian lagi berasal dari kebon singkong di belakang rumah. Tetapi ada satu yang menetap dalam rumah ini.
"Ah masa? Bercanda lu Mir!", komentar Mas Ari mendengar penjelasan Amir.
"Aku selalu serius untuk hal yang tidak main-main Ar"
"Lalu, yang satu lagi?"
"Dia berada tepat dibawah tempat tidur kalian. Seekor ular besar yang tampak melingkar, seperti ular sungguhan yang sedang mengalami proses hibernasi atau tidur panjang", jelas Amir memelankan suaranya, setengah berbisik. Seakan khawatir ada yang terganggu bila mendengarnya.
"Tidak mengganggu?" tanyaku ikut memelankan suara. Kugosok-gosok lenganku yang bulu-bulunya terasa mulai berdiri.
Amir diam memandangku dan Mas Ari bergantian dengan muka serius. Lalu tawanya pecah melihat kami yang terbawa suasana.
"Ha…ha…ha! Tidak, tidak mengganggu, selama kalian yakin pada kekuatan Yang Maha Kuat"
Kami berdua menjadi lega.
Hari-hari berikutnya, cerita Amir hanya menjadi satu informasi yang mengendap dalam memori otakku. Aku sibuk dengan tugas-tugas rutin sebagai ibu rumah tangga, serta bersosialisasi sebagai tetangga baru. Berbagai masalah dan kejadian di kontrakan ini mewarnai hari-hari. Mulai dari persoalan kenaikan uang sewa, air yang sering mati, listrik yang sering turun. Pertengkaran dua anak yang saling berebut mainan, merembet menjadi perang mulut antar ibunya. Bahkan nenek, tante dan kerabatnya ikut-ikutan menjadikan perseteruan semakin seru. Padahal beberapa menit setelah bertengkar, anak-anaknya kembali bermain bersama, tanpa memperdulikan ibu mereka yang saling tidak bertegur sapa, meski rumah mereka bersebelahan. Yang tak kalah rame adalah persaingan materi antar penghuni kontrakan, mulai dari menu masakan, daftar belanja, daftar arisan, perhiasan, perabot, ukuran TV, kulkas, HP sampai sepeda motor. Ada juga satu penghuni kontrakan yang sejak ketahuan suaminya berselingkuh dengan wanita lain, jadi punya hobi berantem dan aksi lempar piring yang tak kenal waktu dan jelas-jelas mengganggu penghuni lain. Maklum, walau hanya dihuni delapan keluarga, tapi masing-masing mempunyai beraneka ragam kelas, latar belakang keluarga, pendidikan, karakter, gaya hidup dan cara hidup. Namun pada umumnya antar keluarga saling mengerti dan perduli, meski kadang kebablasan jadi terlalu ingin 'mengerti' dan terlalu 'perduli' masalah orang lain.
Dan keganjilan itu berawal pada suatu malam. Dalam tidur samar-samar kudengar dengkuran Mas Ari di sebelahku, makin lama makin keras. Tetapi suara dengkur itu agak aneh, ada suara lain yang mengiringinya. Suara yang halus namun jelas. Kubuka mata. Aku mengira-ngira suara apa itu. Kutajamkan pendengaran, berusaha menangkap dan menyaring semua jenis suara, bahkan ultrasonik maupun infrasonik sekalipun. Dadaku berdesir begitu mengenal suara itu. Itu adalah suara desis, desis ular. Kucoba mencari sumbernya, takut kalau ada ular dari kebon singkong atau kebon kosong samping rumah yang nyelonong masuk. Nihil, tidak ada apa-apa, kecuali suara desis yang timbul tenggelam ditengah dengkur Mas Ari.
Lalu aku teringat satu hal, siapa tahu ular itu bersembunyi di kolong tempat tidur. Cepat-cepat kulongok ke bawah. Gelap. Namun ada cahaya kecil berwarna merah. Tidak cuma satu, tapi dua. Seperti cahaya dari sepasang mata yang bersinar, memandang tajam dan menusuk. Menebarkan teror mental. Aku terpana sesaat. Begitu sadar bahwa ada bahaya dan aku harus melakukan sesuatu. Rasa takut serta-merta menyergap karena teringat cerita Amir waktu itu. Aku hendak membangunkan Mas Ari yang tengah pulas, tapi begitu ingin mengangkat tangan kanan, terasa begitu sulit digerakkan. Satu gerakan saja, membuatku kelelahan setengah mati, dan tetap tak berhasil juga. Ditengah-tengah putus asa, aku berteriak. Tapi tak satu suara pun yang keluar dari mulutku. Semakin keras aku berusaha, yang terdengar hanya suara igauan. Aku semakin panik. Dan…
Aku tersentak. Mimpi yang aneh namun terasa nyata. Mendorongku untuk melongok ke bawah tempat tidur. Tidak segelap tadi. Tidak ada apa-apa, kecuali kandang kecil yang dihuni sepasang hamster kesayanganku.
"Ah, hanya bunga tidur", gumamku sambil menarik nafas lega. Kulirik Mas Ari yang masih lelap tidur. Kulirik jam weker di meja, hampir pukul empat pagi. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari masjid dekat lapangan bola di ujung utara desa. Disusul suara perkutut tetangga sebelah yang manggung. Sebentar lagi subuh, mataku susah dipejamkan kembali. Lalu aku beranjak mengambil air wudlu, menanti sholat subuh.
Mimpi itu hampir terlupakan sampai suatu malam terulang kembali. Aku menceritakannya kepada Mas Ari.
"Itu kan cuma mimpi", komentar Mas Ari, sama seperti komentar-komentar sebelumnya bila aku bercerita mimpi yang aneh, menakutkan, buruk atau yang menyenangkan.
"Tapi ini sampai terjadi dua kali, Mas. Aneh kan!", protesku.
"Kamu teringat-ingat kata Amir, jadi kebawa mimpi."
"Ah enggak. Mimpinya semalam, sedangkan Amir ngomongnya kapan. Masa iya kebawa mimpi"
"Sudahlah, tidak usah dipikirin. Itu kan cuma mimpi", lagi-lagi komentar itu yang muncul. Tidak mengurangi rasa penasaran, apalagi menjawab tanda tanya. Hanya menyisakan ketidakpuasan. Akhirnya aku berpikir, "Mungkin hanya kebetulan", dan mimpi itu tidak berarti apa-apa kecuali cuma sebuah mimpi.
Namun itu belum berakhir. Malam berikutnya, aku kembali tersentak dari tidur, oleh mimpi yang sama. Ini yang ketiga kalinya dan itu bukan lagi kebetulan. Kutarik nafas panjang. Mas Ari masih lelap dalam tidurnya.
Tapi ada yang aneh.
Di sela-sela dengkur Mas Ari, ada suara lain yang pelan yang sangat kukenali. Seperti desis ular. Terdorong rasa penasaran dengan meredam perasaan takut, kulongok ke bawah. Agak gelap. Betapa kaget karena sepasang mata merah dalam mimpi itu ada di sana. Seperti terlihat jauh, walau suara desisnya semakin jelas. Cepat-cepat kutarik kepala, kupejamkan mata dan mengatur nafas.
"Cuma mimpi, cuma mimpi", gumamku mengusir mimpi yang mungkin masih tersisa. Kubuka mata dan kuusap muka berkali-kali. Desis itu menghilang. Merasa agak lega, dengan rasa penasaran, pelan-pelan kujulurkan kepala ke kolong tempat tidur. Tapi aku lebih kaget lagi, karena ternyata bukan mimpi.
Buru-buru kubangunkan Mas Ari. Dengan terbata-bata kuceritakan apa yang barusan kulihat.
"Ah, masa sih!", Mas Ari tak percaya, serta-merta melongok ke bawah tempat tidur.
"Mana? Tidak ada apa-apa!", teriaknya, "Yang ada juga hamster-hamstermu yang lagi mengerat kandangnya", sambungnya.
"Benar Mas, aku tadi melihat sendiri", aku meyakinkan.
"Lihat saja sendiri. Mungkin kamu kebawa mimpi".
Lalu aku turun dan merunduk, namun sepasang mata itu masih di sana. Aku terpana. Aneh, walau rasa takut perlahan mulai lenyap.
"Gimana, tidak ada apa-apa kan?", tegasnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Anggukan yang diartikan Mas Ari sebagai pembenaran ucapannya. Tapi anggukan itu lebih meyakinkan diriku tentang apa yang kulihat.
"Sudahlah, ayo tidur lagi", ajaknya yang kembali rebah dan menarik selimut. Aku pun mengikutinya. Tapi mataku tidak mau terpejam. Masih disergap tak percaya.
"Mengapa Mas Ari tidak melihat ular itu?", pikirku.
Akhirnya aku dapat memjamkan mata, setelah lelah memikirkan apa yang aku alami. Dan terlelap diiringi suara desis yang sekali-sekali terdengar.
Awalnya sulit menerima kehadiran ular itu. Bukan saja rasa takut yang sekali-sekali muncul, juga rasa selalu diawasi. Apapun yang kulakukan, bahkan saat berganti pakaian atau bermesraan dengan Mas Ari, selalu ada yang melihat. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga dengan keberadaannya. Aku tidak tega mengusirnya. Lagipula dia sudah menghuni rumah ini jauh lebih dahulu dariku. Bahkan aku merasa ada yang menemani saat Mas Ari berangkat kerja. Terutama bila Mas Ari meeting di Puncak dan harus menginap atau pulang malam karena kesibukannya. Ular itu menemani ngobrol dan menjadi pendengar yang baik, sambil sesekali mengajukan komentar, pendapat atau saran. Tak lama, kami pun menjadi akrab. Sering kami memasak bersama, mencoba resep baru. Dia juga membantu menata ulang ruangan dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Meski begitu, kami tetap menjaga batas-batas keberadaan masing-masing.
Keharmonisan itu terusik di hari ulang tahunku.
"Dek, ayo bangun! Udah pagi nih", suara lembut Mas Ari membangunkanku. Aku menggeliat malas, "Eeehh… ngantuk!", mataku kembali terpejam nyaman.
"Selamat ulang tahun, sayang", sambungnya sambil mencium keningku.
Serta-merta mataku terbuka lebar, beradu dengan senyum manis Mas Ari.
"Oh, iya. Lupa", aku pun nyengir lebar, tak bisa menyembunyikan rasa senangku.
"Selamat ultah ya", ulangnya.
"Terima kasih", aku pun memeluk Mas Ari, "Eh Mas, hari ini aku akan masak nasi kuning. Nanti pulang cepat ya", rengekku. Seperti biasa. Setiap aku atau Mas Ari ulang tahun, aku selalu bikin tumpeng nasi kuning untuk merayakannya. Dan sebelum makan berdua, kami mengucap syukur atas nikmat satu tahun usia yang telah terlewati, dan memanjatkan doa untuk satu tahun kedepan.
"Iya, tenang. Jam setengah tujuh pasti sudah dirumah", Mas Ari meyakinkan. Akhir-akhir ini Mas Ari sering pulang telat. Kerjaannya bertambah banyak, karena Mbak Riri - rekan kerjanya - sedang cuti melahirkan. Terpaksa bagian budget pun harus ditanganinya sendiri.
"Bener, janji ya".
"Iya…janji."
Lepas maghrib, pekerjaanku selesai. Sebuah tumpeng mungil, lengkap dengan lauk dan hiasannya. Lalu aku mandi dan berdandan. Dihari spesial aku ingin tampak rapi. Kutengok jam, pukul tujuh kurang. "Mas Ari kok belum pulang?". Kupencet tombol remote TV, mencari acara yang bagus. Jam-jam begini semua TV berisi sinetron yang bagiku tak bermutu. Akhirnya aku pasrah menonton berita. Kutengok lagi jam weker, setengah delapan lebih. Kupanaskan lagi nasi tumpeng yang sudah dingin dan kubentuk kembali menjadi kerucut kecil. Kembali kupelototi TV, walau hatiku mulai resah. "Mungkin macet", pikirku. Tak terasa mataku mulai berat. Dan aku pun tertidur, tidak ingat lagi dengan rasa kesalku yang memuncak.
Aku terbangun, kaget. TV masih menyala. Kulirik jam, hampir jam sepuluh. Mas Ari belum pulang juga, dan rasa kesalku menjadi-jadi. Di bawah tempat tidur, ular itu mendesis-desis dengan nyaman, menambah kedongkolanku saja. Setelah selesai memanasi dan menata tumpeng untuk yang kedua kalinya, hampir pukul sebelas saat suara motor Mas Ari terdengar. Aku pasang muka masam, cemberut, lengkap dengan seribu satu omelan yang siap terlontar. Kubuka pintu. Mas Ari muncul dengan muka penuh perasaan bersalah, memandangku sambil memelas. Akan kuperlihatkan muka paling kecut yang pernah aku punya, sampai tiba-tiba ular itu keluar dan memasuki diriku. Tak sadar, aku tersenyum manis sambil mencium tangan Mas Ari. Mas Ari juga tersenyum lega. Namun aku malah terkejut. "Tidak, aku tidak berniat tersenyum!", benakku berteriak.
"Maaf Dek, aku tadi harus menyusun budget training untuk setahun kedepan. Mas harus menyelesaikannya hari ini, karena besok harus diserahkan ke direktur. Maafkan Mas, ya", mohonnya sambil memelukku hangat.
Seribu satu omelanku siap berloncatan: "Sudah jam berapa sekarang Mas? Berapa jam aku menunggu? Mas janji pulang jam berapa? Tahu tidak, sudah dua kali tumpengnya aku panasi! Sampai capek aku menunggu Mas, dan hanya kata maaf? ……", dengan nada tinggi, kulepaskan pelukannya sambil membanting pintu.
"Tidak apa-apa Mas. Mas juga capek kan? Yuk kita makan. Tumpengnya baru saja aku panaskan, nanti keburu dingin", kataku sambil menggandeng tangan Mas Ari ke dalam. Aku lagi-lagi terkejut. "Yang barusan ngomong itu bukan aku", protes batinku, "Pasti ular itu. Berani-beraninya dia merusak acara marahku, sebagai protes pada Mas Ari yang dengan seenaknya menyalahi janji. Apalagi ini hari ulang tahunku. Seharusnya dia lebih memperhatikan istrinya daripada pekerjaan yang seharusnya tanggung jawab orang lain. Kalau dibiarkan, lama-lama akan terbiasa!…", pikiranku terus memaki-maki. Sementara Mas Ari memimpin upacara mengucap syukur, memanjatkan doa dan mengucapkan selamat ulang tahun, sambil memeluk dan menciumku. Kulihat, aku pun berseri-seri bahagia, ditutup dengan makan tumpeng berdua.
Keesokan hari, begitu Mas Ari berangkat, buru-buru aku menemui ular itu.
"Apa maksudmu?", tanyaku setelah melontarkan seabrek protes atas ulahnya semalam.
"Aku hanya ingin kamu belajar menjadi lebih baik"
"Ah, alasan!", bentakku, " Kamu ingin menggantikanku pelan-pelan bukan? Menguasai, lalu setelah berhasil menjadi diriku, kamu akan menyingkirkanku! Selama ini kamu berteman denganku hanya untuk mengintai diam-diam, lalu saat aku lengah, kamu akan menerkam!"
"Aku hanya ingin kamu belajar bersyukur", kilahnya.
"Apa?!"
"Mensyukuri telah diberi suami yang baik, kehidupan yang baik. Apakah kamu tidak pernah berpikir bila memiliki suami yang jahat, atau pemabok, atau penjudi, atau suka main perempuan, atau cacat fisik, atau impoten atau apapun yang jauh dari keadaan suamimu sekarang? Masih sanggupkah kamu bersabar? Bila untuk kesalahan yang bukan atas kesengajaannya, kamu harus tega sekedar bermuka masam atau bahkan mengumpat, setelah lelah seharian mencari nafkah untuk istrinya?", kata-katanya pelan dan dalam. Mampu membuatku merenung, walau egoku tak menyurutkan kekesalanku padanya.
Itu awal permusuhanku dengan ular itu. Banyak kejadian berikutnya dan kembali dia begitu saja memasuki diriku. Seperti saat aku sedang jengkel dan berniat mogok masak, kemudian aku melihat diriku menjadi sangat ingin berbelanja dan membuat masakan yang spesial. Sampai-sampai Mas Ari menghabiskan masakanku dan mengeluh kekenyangan;
Atau saat aku kesal dan capek menunggu Mas Ari yang pulang telat, lalu aku melihat diriku berdandan rapi dan menyambut kepulangannya dengan senyuman. Bahkan kemudian memijiti punggung dan kakinya, karena Mas Ari tampak kelelahan;
Atau saat aku menemukan sebungkus rokok dalam saku Mas Ari. Aku benci dengan rokok. Ketika mulutku sudah mangap akan mengomel, lalu aku juga melihat diriku urung dan kembali memasukkan rokok tersebut ke saku;
Atau saat-saat aku dan Mas Ari bertengkar, entah siapa yang salah dan siapa yang memulai. Sebelum aku meledak dan pertengkaran menjadi lebih hebat, tiba-tiba saja aku melihat diriku meredam kemarahan dan meminta maaf lebih dahulu - hal yang pantang aku lakukan -. Dan pertengkaran menjadi pupus dan kami kembali berbaikan;
Namun selanjutnya aku tak akan kalah. Setelah bertengkar, saat Mas Ari meminta 'jatah' -istilah Mas Ari bila menginginkan melakukan hubungan suami-istri-, aku akan menolaknya mentah-mentah! Tapi lagi-lagi aku melihat diriku melayani permintaan Mas Ari, bahkan sampai tertidur puas. Sementara mataku tak mau terpejam memikirkan kekesalanku.
Begitulah, ular itu semakin melampaui batas. Dia mengikuti kemanapun aku pergi, ikut melakukan apapun yang aku lakukan, memikirkan apapun yang aku pikirkan, bahkan ikut merasakan apapun yang aku rasakan. Begitu saja masuk dan keluar dari diriku dengan seenaknya. Ular itu telah merubahku. Tidak, tidak merubah. Tepatnya menyusup dan menggantikanku. Itu bukan aku. Aku adalah pribadi yang meledak-ledak, spontan dan apa adanya. Aku tidak suka kepura-puraan atau menutup-nutupi perasaan. Dan bila aku memprotes ulahnya, dia akan selalu menjawab, " Aku hanya ingin kamu belajar menjadi lebih baik. Emosi akan merusak jiwamu dengan perlahan. Itu bukan kepura-puraan, tapi proses pembelajaran…". Bla…bla…bla… Alasan! Membuatku tambah benci. Tapi dia tetap tenang tak bergeming. Dan semakin aku membencinya, aku semakin tak berdaya melawan kekuatannya.
Sampai pada puncak kemarahanku padanya, puncak kebencianku, sekaligus puncak ketidakberdayaanku, "PERGIIII…!!!". Sebuah vonis yang telak. Aku tak mau ular itu menjadi bayanganku, apalagi aku tak sudi menjadi bayangannya. Aku juga tak mau terusir dari diriku, dari hidupku. Aku harus mengusirnya pergi sejauh-jauhnya dari rumahku, dari hidupku untuk selamanya.
Sejak saat itu, ular itu tidak nampak lagi. Tidak juga ada dimanapun. Di bawah tempat tidur tempatnya semula berasal pun, tidak ada. Sepi, hanya ada kandang kecil sepasang hamster kesayanganku. Bahkan dalam mimpiku sekalipun, dia tidak pernah muncul. Aku tersenyum bangga, karena berhasil mengusirnya. Akhirnya aku menjadi diriku lagi, menggenggam hidupku sendiri, tanpa dipengaruhi, baik perasaan, pikiran atau tindakannya. Dan bisa merasa tenang kembali.
Waktu berlalu. Aku merasa ada yang hilang. Aku rindu ular itu. Rindu saling bercerita, membuat kue bersama, menata ruang bersama, bercanda dengan hamster-hamsterku. Rindu keharmonisan saat pertama-tama kami berteman. Selama itu aku merenung, memutar kejadian demi kejadian yang membuatku membencinya. Salahkah apa yang ingin disampaikannya? Benarkah apa yang aku lakukan? Renungan yang begitu panjang, membawaku pada satu kesimpulan.
Sebenarnyalah ular itu tidak pernah mengalahkanku. Aku kalah pada diriku sendiri. Aku kalah saat tidak bisa mengendalikan emosi, perkataan dan perbuatan. Aku kalah saat tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Sebenarnyalah dia tidak pernah mengendalikan perasaan, pikiran, peran ataupun hidupku. Tapi ego dan emosilah yang merasukiku, mencengkeram dan akan menghancurkan. Seharusnya bukan ular itu yang harus diusir, tetapi hawa nafsuku yang harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Seharusnya dia tidak perlu pergi dan menghilang, tidak juga perlu ada. Karena dia adalah diriku sendiri. Diriku pada sisi yang lain, yang lebih dewasa dan matang.

* * * * *

Aku dan Mas Ari selesai mengemasi barang-barang terakhir. Rumah kontrakan yang aku tempati sudah kosong. Semua perabot sudah dipindahkan ke rumah kami yang baru. Sebuah rumah tipe 21di perumahan Pondok Sukahati Indah, blok B nomer 11, di kawasan Cibinong. Sebuah rumah kecil, yang baru kami beli dengan cucuran keringat, perasaan dan laku prihatin.
Kemudian kami berpamitan dengan pemilik kontrakan dan menyerahkan kunci, lalu berpamitan pada tetangga satu persatu. Sementara Mas Ari asyik ngobrol dengan tetangga, aku teringat sesuatu, hamsterku. Aku masuk rumah kembali, berhenti pada bekas tempat tidurku.
"Aku ingin berpamitan padamu juga. Tak perduli kau mendegarku atau tidak. Tak perduli kau ada atau tidak. Aku hanya ingin meminta maaf atas semua perbuatanku yang salah padamu. Mengucapkan terima kasih atas semua moment yang pernah kita lewati. Aku akan pindah ke rumah baru. Kamu jaga diri baik-baik, begitupun aku akan menjaga diri. Dan, selamat tinggal…"
Aku mengangkat kandang hamsterku, namun ada secarik kertas yang menempel di bagian bawahnya dan jatuh ke lantai. Perasaan aku sudah membersihkan ruangan ini sebelumnya dan tidak ada yang tersisa. Kuambil kertas itu dan kubaca. Aku tidak mengenali tulisan siapa ini.

Ciri wanita ahli surga adalah:
• Ridlo dengan suami yang telah dijodohkan oleh Allah
• Menjadi istri yang setia kepada suami dikala senang dan susah
• Selalu memohan maaf kepada suami
• Senantiasa taat pada suami selagi tidak menentang syari'at
• Senantiasa menghibur hati suami terutama bila suami dalam keadaan susah
• Senantiasa mendahulukan suami dalam segala keadaan
• Melembutkan pandangan dan tunduk apabila dihadapan suami
• Tidak pernah menolak bila disentuh suami kapanpun ia perlu
• Tidak berkhianat terhadap harta, perkara dan sebagainya, takkala suami tidak ada
• Senantiasa hormat pada suami dan orang tua suami
• Selalu mendo'akan keselamatan dan kesejahteraan untuk suami
• Selalu bersih dan bersolek untuk membahagiakan hati suami bila dipandang
• Tidak pernah menunjukkan wajah yang muram dan berlaku kasar terhadap suami
• Menyambut pulangnya suami dengan senyum dan mencium tangannya
• Tidak pernah keluar rumah tanpa seijin suami
Dan ikhlas melaksanakan semua itu.

Aku terdiam mematung mencermati huruf demi huruf dalam kertas yang kupegang. Terbayang keburukan demi keburukan yang aku lakukan. Betapa jauhnya aku dari ciri-ciri wanita ahli surga seperti dalam tulisan itu. Dan betapa banyak yang masih harus aku pelajari dan tebus dalam hidup ini. Dadaku bergemuruh menahan tangis yang siap pecah. Dan tiba-tiba aku merasa sangat lemah. Lama aku tercenung, sampai Mas Ari menyusul masuk dan mengajakku meninggalkan tempat, ke rumah kami yang baru.

By: Winarni Lestari

Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

1 komentar:

yuni alfaiz mengatakan...

subhannallah benarkah cerita ini :)

[ Reply ] | 6 April 2013 02.09
:f :D :x B-) b-( :@ x( :? ;;) :-B :| :)) :(( =(( :s :-j :-p :-o :-g :-x

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Translate