22 Jan 2012

Partai Islam Di Mesir Menang Dalam Pemilu


Hasil akhir pemilihan parlemen pertama Mesir setelah jatuhnya Presiden Husni Mubarak, menetapkan partai-partai beraliran Islam sebagai pemenang.

Partai Kebebasan dan Keadilan, FJP -yang merupakan partai politik milik Ikhwanul Muslimin- meraih 47,18% suara, seperti diumumkan Komisi Pemilihan Umum Mesir, Sabtu 21 Januari. Dengan perolehan itu, FJP akan menguasai 235 kursi di Majelis Rakyat.

Tempat kedua diduduki oleh kubu konservatif, Partai Salafist al Nur dengan 121 kursi atau 25% suara. Sementara partai beraliran liberal, Partai Wafd, meraih 36 kursi dan partai sekuler, Koalisi Mesir, memiliki 33 kursi. Dengan hasil tersebut maka partai-partai Islam menguasai sekitar dua pertiga parlemen.

Ikhwanul Muslimin merupakan organisasi yang dilarang di bawah pemerintahan Presiden Husni Mubarak. Kemenangan mutlak ini membuat FJP sudah memutuskan seorang politisi seniornya, Saad al-Katatni, untuk ditunjuk sebagai ketua Majelis Rakyat.

Bagaimanapun -seperti dilaporkan wartawan BBC di Kairo, Jon Leyne- presiden yang kelak akan membentuk pemerintahan dan bukan partai pemenang pemilu. Pemilihan parlemen ini digelar setelah unjuk rasa massal berhasil menjatuhkan Presiden Mubarak pada Februari 2011.

Warga Mesir memberikan suara dalam tiga tahap pemilu yang berlangsung selama enam minggu untuk memilih 498 anggota Majelis Rakyat sementara 10 anggotanya ditunjuk oleh Dewan Agung Militer, yang saat ini memerintah Mesir untuk sementara waktu.

Berdasarkan sistem pemilihan Mesir, warga memilih dua pertiga anggota parlemen berdasarkan partai, yang memiliki daftar calon masing-masing. Hanya sepertiga calon individu yang dipilih langsung. Bulan Februari akan digelar pemilihan umum untuk majelis tinggi parlemen.

Setelah itu akan dipilih 100 anggota dari majelis tinggi dan majelis rendah yang bertugas untuk menyusun konstitusi baru. Adapun pemilihan presiden rencananya akan dilangsungkan pada bulan Juni.

Sumber: BBC

21 Jan 2012

JANGAN KETUK JENDELA KAMARKU


Jangan ketuk jendela kamarku malam ini !
Jika engkau hanya
Rintik hujan tergelincir dari mendung menggantung di sudut mata
Atau berkas rembulan di genggaman mengintip dari sela jari-jemari
Juga embun terpelanting oleh angin musim dari ujung daun kamboja

Jangan ketuk !
Jika engkau sebentuk
Harum bunga kopi dengan nakal menyusup disela hembus nafas dan dengkur
Atau nada pencuri dengar lagu yang selalu kuputar sebagai penghantar tidur

Jangan !
Jika engkau merupakan
Bayang masa lalu yang luput dari remah kenangan dan disesatkan kabut
Atau harapan masa depan yang jemu menunggu waktu lalu iseng mempermainkan maut

Akan kubuka nanti
Jika engkau adalah sesosok rinduku yang kembali
Dari pengembaraannya mempertanyakan tempatku bersemayam di ruang hatimu
Di kala senja telah jauh terperosok kedalam pekat malam yang berjalan ragu


By:

Presiden Yaman, mendapat kekebalan hukum


Parlemen Yaman memberi kekebalan dari tuntutan hukum kepada Presiden Ali Abdullah Saleh lewat pemungutan suara yang berlangsung Sabtu, 21 Januari 2012. Kekebalan hukum ini diberikan menyusul kesepakatan dengan Presiden Saleh yang akan mengundurkan diri secara resmi bulan depan.

Parlemen juga memberi kekebalan hukum kepada sejumlah pembantu Presiden Saleh -termasuk beberapa anggota keluarganya- namun bersifat terbatas sehingga bukan merupakan kekebalan hukum secara total. Kesepakatan peralihan kekuasaan sebelumnya mencakup kekebalan hukum atas semua orang yang 'pernah bekerja dengannya'.

Masalah ini menjadi isu yang sensitif karena Yaman sedang berada dalam proses transisi politik dan banyak pengunjuk rasa yang tetap menuntut agar Presiden Saleh harus diadili. Unjuk rasa menentang kepemimpinan Presiden Saleh sudah berlangsung sekitar setahun. Pemerintah mengerahkan aparat keamanan untuk membasmi aksi unjuk rasa dan ratusan orang meninggal.

Presiden Saleh berkuasa sejak tahun 1978 dan dia beserta keluarganya mengendalikan aparat keamanan Yaman. Bulan November 2011, presiden mencapai kesepakatan untuk menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden dengan imbalan mendapat kekebalan dari tuntutan hukum.

Sejumlah pihak menentang pemberian kekebalan hukum namun banyak yang berpendapat bahwa hal tersebut dibutuhkan agar Yaman bisa melangkah maju menuju demokrasi. Rencananya Yaman akan menggelar pemilihan presiden pada tanggal 21 Februari namun menteri luar negeri sudah memperingatkan penundaan dengan alasan keamanan belum sebenuhnya diatasi.

Unjuk rasa antipemerintah di Yaman juga dimanfaatkan oleh kelompok militan yang punya kaitan dengan al-Qaeda. Mereka dilaporkan sudah menguasai beberapa kota di bagian selatan negara itu.

Sumber: BBC


STATUS FB TERBAU 2015